Kenapa Anak Harus Sekolah Tatap Muka?

 

Menurut data dari UNICEF saat ini kita sedang menghadapi krisis pendidikan. Anak sekolah di seluruh dunia telah kehilangam 1,8 triliun jam dan jam ini masih terus berjalan akibat Covid-19.

Hampir 18 bulan setelah sekolah di Indonesia ditutup untuk menghentikan penyebaran Covid-19, dan lebih dari 60 juta siswa terkena dampak penutupan sekolah secara nasional pada Maret 2020.

UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak semua sekolah di Indonesia untuk membuka kembali denengan aman dan melanjutkan pembelajaran tatap muka untuk anak-anak sesegera mungkin. Karena penutupan sekolah berdampak tidak hanya pada pembelajaran siswa, tetapi juga pada kesehatan dan kesejahteraan mereka pada tahap perkembangan kritis, dengan dampak jangka panjang.

Anak-anak yang tidak bersekolah juga menghadapi risiko eksploitasi tambahan selain kekerasan fisik, emosional dan seksual. Peningkatan yang mengkhawatirkan dalam pernikahan anak dan kekerasan anak telah didokumentasikan di Indonesia sejak awal pandemi.

Pengadilam agam mencatat kenaikan tiga kali lipat permintaan dispensasi perkawinan, dari 23.126 pada 2019 menjadi 64.211 pada 2020.

Dan seperti yang kita ketahui, sekolah melakukan lebih dari sekadar mengajari anak-anak cara membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga menyediakan layanan nutrisi, kesehatan dan kebersihan, dukungan kesehatan mental dan psikososial, dan secara tidak langsung mengurangi risiko kekerasan, kehamilan dini dan banyak lagi.

Sehingga setelah sekian lama dan pertimbangan yang cukup dalam, akhirnya pemerintah memutuskan agar sekolah-sekolah dibuka kembali dengan syarat sekolah dan perguruan tinggi yang berada di daerah dengan PPKM level 1-3 dan dengan melakukan prokes yang ketat.

Kemudian, apakah Sobat MIP NEWS sebagai orang tua sudah siap dengan pembelajaran tatap muka dan tahu apa yang harus dipersiapkan untuk bisa melakukan pembelajaran tatap muka? Karena sebagai orang tua mungkin kita akan khawatir apakah anak-anak bisa mengikuti prokes di sekolah, apakah para guru sanggup memantau anak-anak? Dan kenapa anak-anak harus kembali sekolah? Pertanyaan ini mungkin ada di benak orang tua murid.

Oleh karena itu, karena pengalaman menunjukan bahwa sekolah bukanlah pendorong utama penularan. Maka sangat memungkinkan sekolah dan perguruan tinggi melakukan pembelajaran langsung (tatap muka). Namun harus menerapkan beberapa Prokes dibawah ini untuk menghindari terjadinya klaster sekolah :

  1. Penerapan kebijakan masker bagi siswa dan staf sesuai dengan pedoman nasional dan lokal.
  2. Penyediaan fasilitas cuci tangan dan/atau han sanitizer.
  3. Sering membersihkan permukaan dan benda yang digunakan bersama.
  4. Memastikan ventilasi yang memadai dan sesuai.
  5. Cohorting (menjaga siswa dan guru dalam kelompok kecil yang tidak bercampur), awal, istirahat, kamar mandi, makan, dan waktu akhir yang bertahap, dan kehadiran fisik bergantian.
  6. Membangun mekanisme berbagi informasi dengan orang tua, siswa dan guru.
  7. Meskipun bukan prsyarat untuk membuka kembali sekolah, guru harus dipriorotaskan untuk menerima vaksin Covid-19 setelah petugas kesehatan garis depan dan mereka yang paling beresiko, untuk membantu melindungi mereka dari penularan masyarakat.

Semoga apa yang telah kami sampaikan di MIP NEWS bulan Oktober 2021 ini dapat membuat Sobat MIP NEWS / para orang tua lebih memahami dan ikut serta menjaga anak-anak tetap mendapatkan haknya untuk menuntut ilmi namun tetap dalam keadaan sehat dan bugar. Sampai jumpa kembali di MIP NEWS bulan depan.

Salam Sehat & Smile for Health.

Tinggalkan Balasan